Maag Audio EQ4 Impression


Maag Audio EQ4 ini adalah EQ 6Band dengan AIR Band EQ yang sangat terkenal. 

Sedikit sejarah mengenai EQ4. 

Saya selalu mencari secret weapon dari mix engineer dan sering kali saya mendengar mereka suka memakai Pultec EQ, Neve EQ, Helios EQ dan Nightpro NTI EQ. Nah Maag Audio ini adalah jelmaan dari Nightpro NTI EQ tersebut. EQ ini sangat terkenal dengan eq AIR Band (yg dipatenkan mereka).

Cliff Maag Sr. adalah designer dari eq Nightpro tersebut. Anaknya, Cliff Maag Jr. menghimbau ayahnya untuk memproduksi kembali EQ tersebut dalam bentuk 500 series. 
Maka terlahirlah EQ4 tersebut.

Selama ini, saya sudah mencoba berbagai macam ‘treble’ eq dari berbagai merk. Namun tidak ada yg seistimewa AIR Band eq dari EQ4 ini. Lush, airy, open, tanpa hi freq harshness yg biasa kita asosiasikan dengan digital, ataupun ‘bright’ harsh, karena eq nya mengangkat freq2 high yg tidak kita inginkan.

Apa sih rahasianya Air Band ini?

Air Band ini sangat minimal phase shift. Sering kali kalo saya mengangkat hi freq di eq2 lain, ada sedikit perasaan ‘phasey’ or terkadang ingin muntah. You won’t get that with this EQ.

Di mix hari ini, saya memakainya di lead vocal bus sebagai finishing touch terakhir. Setting yg saya pakai tidak terlalu extreme. Tapi tonal shaping yg saya dapatkan; let’s just say, I don’t want to go back and press the bypass button.

Oh, one more thing, yg menarik dari EQ ini adalah, Freq dari AIR Band itu switches, dan semua gain dari each band itu mechanical detent. Recall menjadi sangat mudah dengan eq ini. 

I love it! My wife came in to the mix room and commented on the vocal sound. She has good set of ears, and she likes what she’s hearing. :)

Mix experience with Focal SM9


Saya terbiasa mix dengan speaker Focal Twin6 selama 5 tahun lebih. 

Speaker ini memakai design d’appolito speaker array. 

Hari ini, saya mencoba mix dengan Focal SM9, 3 way active, class AB, 9”, 6.5”, 1” berrylium tweeter with passive radiator. Timingnya cukup pas karena speaker ini di burn in dari minggu lalu. Ketika saya dengar minggu lalu, soundnya masih kaku dan driver belum integrated dengan baik. 
Sempet deg2an jangan sampe speakernya ga sebagus demo unit yg saya dengar tahun lalu.

Namun keraguan saya hari ini sirna setelah kelar mix satu lagu dengan nuansa sting/john mayer. Artis baru ini cukup memberikan warna baru di arena yang sedang mengdewakan boy/girl band.


Keputusan2 yang saya buat dalam tone shaping, balancing dan music automation terasa gampang dan confident.

Dan ketika saya mendengar translate speaker SM9 via edifier 360ribu rupiah, soundnya sangat amat representatif.

I’m happy.

Namun sempat terpikir.


What if saya harus balik lagi memakai speaker2 yang lama. Bisakah saya tetap bekerja dengan speaker itu? Pastinya bisa, tapi namun tidak seenjoy dgn speaker full range ini. Yang pasti, speaker SM9 ini membuat saya lebih mudah bekerja. Freq2 mid high yang seringnya saya ‘obati’ jadi tidak begitu offensive karena foundation low end yg mendukung.

Let’s see apakah ini beginner’s luck atau memang ini speaker ‘mix’ yg bisa diandalkan. 

Next song please! 

Menjaga perspektif dan fokus ketika mixing


Mendapatkan mix yang bagus membutuhkan keterlibatan banyak tehnik mix yang spesifik. Namun, menjaga perspektif dan fokus ketika mixing mungkin hal yang terpenting ketika mixing.Ini ada beberapa tips untuk menjaga fokus anda ketika mixing.

1. Ambil waktu untuk set up ruangan anda. Kalau anda ingin mencapai mix2 yang konsisten, anda memerlukan ruangan yg bisa di’tebak’. Posisikan monitor anda dengan posisi yg nyaman buat anda (ear level), kurangi ambience dari ruangan, dan kurangi gangguan2 visual di control room anda.

Saya sangat suka mix dengan semua lampu dimatikan, dan hanya ditemani lampu ambience yg remang, sehingga mata tidak cepat letih ketika bekerja dalam waktu lama.
Familiarity atau keakraban dengan ruangan anda itu akan menambah kepercayaan anda ketika mixing.

2. Mixinglah dengan berbagai level SPL. Dengan level2 yg berbeda, anda akan mendapatkan ide2 yg berbeda dari balance ketika soft dan loud, yang akhirnya akan memberikan anda perspektif overall yg lebih baik.
Generally, level yg saya pakai adalah, soft, medium dan loud.

3. Hindarilah mix yg ‘bermasyawarah’ di awal bekerja. Masukan dari anggota band, producer, A&R sangatlah bermanfaat, namun usahakanlah diawal anda bekerja utk bekerja sendiri beberapa jam pertama. Sangatlah memudahkan untuk mengulik apa yang ada di imaginasi kita tanpa gangguan.

Biasanya, saya akan mengundang client mix saya untuk datang ketika saya rasa mixnya sudah mencapai 80% ‘jadi’. Dengan begitu, saya mempunyai kebebasan waktu untuk berexperimentasi dan memberikan input dari saya dari sisi kreatif untuk mix tersebut.

4. Have a break.
Mixing bisa menjadi aktivitas yg sangat mengkonsumsi waktu dan pikiran. Tanpa terasa, waktu bergerak sangat cepat dan tak terasa kuping dan tubuh kita menjadi lelah. Ketika tubuh dan kuping sudah ‘fatigue’, produktifitas dan konsentrasi kita pun menurun. Cobalah break/istirahat sebanyak mungkin.

Yang biasa saya lakukan: Saya akan mix per section dan break ketika akan beranjak ke hal berikutnya ketika mixing.
Contoh: Ketika saya kelar melakukan balancing awal, saya akan break sebentar sebelum melanjutkan ke section drums only. Ketika selesai prosesing drums, saya akan break lagi sebelum lanjut ke section berikutnya. Break tersebut tidak memakan lebih dari 2 menit.

5. Gunakan lebih dari satu set monitor
Akan lebih baik mempunyai 2-3 referensi monitor yang kita pakai untuk mixing. 1 main monitor yg full range, 1 yang sangat midrange focused, dan satu lagi yg ‘real world’ dimana speaker tersebut mewakili speaker2 yang konsumen awam pakai.

Saya memakai Focal Twin6 untuk main speaker, Fostex 6301B untuk midrange focused saya, dan Edifier multimedia speaker yg seharga Rp.360ribu saya beli di Mangga Dua.

6. Compare & Contrast
Bandingkanlah hasil mix anda dengan ‘referensi’ yang anda punya, atau artis anda berikan.  Dengan itu, anda akan punya ‘bayangan’ bagaimana hasil mix anda di frequency spectrum/range tersebut dan bagaimana si mix engineer tersebut meramu mix dan mendudukan frequency setiap instrumen.

7. Evaluasi setiap langkah yang diperbuat
Sering kali saya salah langkah ketika saya melakukan prosesing yang extreme. Misalnya, saya merasa harus mengEQ guitar track secara extreme karena sound dasar tidak sesuai yang saya inginkan. Dengarkan ulang rough mix yang diberikan oleh client. Mungkin memang tujuan client tidak mengarah ke ‘processed’ sound yg kita ingini.

8. Mendengar diluar ‘sweet spot’.
Terkadang, sama pentingnya mendengar ‘sekilas’ dengan mendengar fokus di sweet spot. Coba memulai sebuah pembicaraan sambil mendengar sekilas mix anda. Disaat kita tidak begitu menyimak, ada beberapa hal yg esensi yang akan timbul menjadi pertanyaan.
Cobalah dengar di ruang luar control room (lobby), maupun sambil cek facebook di laptop. Hal ini sangatlah berguna untuk mendengar hal2 yg ‘berlebihan’ dan juga balance vocal di sebuah mix.

9. Berani untuk dikritik.
Mintalah pendapat seorang teman dekat dan juga seorang kerabat musisi/engineer. Beranikan diri untuk dikritik supaya kita bisa mendapatkan evaluasi yang objective akan hasil mix kita.

10. Hindari alcohol dan obat2an ketika mix
Mixing ‘under the influence’ terdengar asyik pas saat kita bekerja. Sayangnya, ketika kita mereview hasilnya pada saat ‘sober’, hasilnya biasanya tidak seasyik seharusnya. Sebuah mix yang balanced akan berasal dari jiwa/raga yang balance.

What you listen is what you are


Referensi terciptakan dari firsthand pengalaman dan kenangan mendengar/mencobai sesuatu.


Pengalamansaya makan barbecue ribs terenak yang saya pernah makan di Salt Lick BBQ. Itu menjadi referensi makanan BBQ terenak dalam hidup saya. Salt Lick BBQ

Sebuah standard dan kenangan baru terciptakan. Dari saat itu, semua ribs yang saya makan, saya referensikan melawan ribs dari Salt Lick.

Begitu juga dalam ilmu sound engineering. Referensi akan mengdefinisikan cara mendengar kita. Kenangan akan suara tersebut sangatlah kuat dan tertanam di dalam memory kita.

Pertama kali saya mendengar vocal saya dengan mic condenser pertama yg saya beli seharga $229, saya merasa sound yang saya dengar itu menjadi referensi vocal sound, yang kemudian saya coba recreate ketika saya mix live dengan Shure SM58.

Referensi itu terus berkembang, ketika saya mendengar ‘the classic’ C12, U87, U67, U47, E251, C800.

Mic yang tadi saya rasa bagus, dengan bertumbuhnya referensi dan pengetahuan saya akan microphone technique dan juga karakter suaranya, membuat microphone itu ‘unusable’ dibandingkan dengan Mic $229 itu.

Bagaimana cara saya melebarkan referensi tersebut?

A. Know your gear. Know what it does, how it does what it does, why it does what it does, when it does what it does.

B. Test your favorite references on many sources. If its a pickup transducer (mics, DI, pickup), coba dengan instrumen yg berbeda. If it’s a playback transducer (headphone, monitor, amps) coba mainkan dengan musik referensi yang anda familiar.

C. Pelajari spec untuk mempertegas Point A yang anda pelajari. Spek yang baik akan memperkuat pengalaman dan kenangan mendengar anda.

D. Lebih penting dari spek, pelajari dan catat baik2 di benak anda; ‘how does listening to that instrument/gear move you emotionally?’. What differentiates it than other product you’ve heard?

E. Keep an open mind. Saya rekomen membaca speknya setelah mendengar dan bukan sebaliknya.

Semakin kaya referensi kita, semakin kaya library sound kita. Namun akan lebih baik kalau library tersebut adalah ‘buku2’ yang telah kita baca dan mengerti, bukan hanya buku2 yang kita simpan untuk menjadi library.

Library

Mixbus Compression Short Review


Sekitar 2 minggu yang lalu, di studio Syailendra, milik Mr. Abim, kami melakukan mixbus compressor comparison dengan beberapa teman2 sound engineer.


Beberapa alat yg di test adalah Smart Research C1, C2, API2500, Roll Music 755 dan juga SSL compressor. Smart C2

Smart C2

API 2500

Supert Stereo Compressor

Mixbus compression mana yang terbaik? Sayangnya, terbaik bukanlah jawaban yang bisa saya berikan disini. Setiap mixbus compressor mempunyai karakter dan keunggulan yg cukup kuat. Saya akan coba mengulas apa yang saya dengar.


Pertama, apa fungsinya mixbus compressor? Secara dasar, menurut saya mixbus compressor membantu mix ‘gel’ together. Melekatkan mix dengan lebih mudah, sehingga sound mix anda tidak terdengar terpisah, tapi terdengar lebih menyatu. Penggunaan mixbus compression tidaklah asing di produksi dari jaman dulu, dengan fairchild 670 di mixbus. Tapi konsep ini menjadi salah satu sound ‘record’ yg sangat familiar di telinga kita ketika SSL Quad Compression menjadi signature sound of the 80s sampai sekarang.

Sound SSL Mixbus compression ini tidak asing lagi bagi yang sering mendengarnya. Saya menamakan ini sound of VCA mixbus compression.

Saya paling suka memasang mixbus compression dari awal, tapi mulai adjusting setting parameternya ketika balance sudah terbentuk.

Berikut review saya untuk setiap alat:


Smart C2 mempunyai suara yg modern, sound ‘jadi’. ‘Smack’, glue, punch and ‘finished’ sound cukup merepresentasi apa yang saya dengar dari unit ini. Feature yg dia miliki, sidechain input, dan juga crush modenya, membuat mixbus compressor ini cocok sekali bagi mereka yg suka sound modern dan ‘jadi’.

Smart C1 mempunyai suara yg sangat ‘akrab’ dengan para teman2 engineer pada malam itu. Suaranya paling mendekati SSL compression sound. Apabila anda mencari sound SSL Mixbus compression, inilah outboard yg paling representatif untuk sound ‘classic’ SSL sound.

Mengapa Smart Research compressor? Alan Smart, designer dari compressor ini dulu bekerja di SSL sebagai designer team awal SSL. Kalau ada satu orang yg sangat mengerti design teknis dari compressor SSL, dia lah orangnya.

Lanjut ke compressor API 2500:

Sound API ini secara tidak langsung memberikan ‘upgrade’/facelift ke tracks2 yang kita dengar. Everything sounds bigger, and better. Yang saya rasakan ketika switch ke compressor ini adalah, it sounds BIG and HUGE. Outboard ini pun sangat kaya feature dan sangat flexible. Anda butuh sidechain filter? You got it! Anda butuh Dual mono or stereo? Bisa! Anda mau detection filter? Bisa juga! Unit ini yang paling representatif untuk mereka yang mau memberikan kesan ‘gagah’ dan ‘besar’ dalam mix/master mereka. Saya bisa rekomendasikan unit ini utk mastering juga.

Untuk musik yang non-mainstream, saya rasa this is THE mixbus compression of choice. Sementara Smart akan sangat mengingatkan kita akan Top 40 American/British Billboard chart.

Berikut, kita mendengar Roll Music Super Stereo Compressor.

Sound yang diberikan oleh unit ini, terdengar halus dan ‘adem’. Sound yang lewat tiba2 terdengar rapi dan terbentuk. Sangat amat berbeda dengan tiga unit lain. Sidechain HPF menjadi standard feature disini. Dual release timing (opsi release sangat banyak) membuat unit ini sangat musikal untuk berbagai jenis musik.

Unit ini saya sangat suka memakainya untuk menghaluskan dan merapikan dinamika sehingga terkesan terbentuk dengan rapi.

Satu hal yg saya belajar pada malam itu juga adalah, perbedaan antara dual mono sound dan stereo sound. Perbedaan ini cukup signifikan dan akan mengubah cara kita mendengar dan bekerja. Dual mono terasa lebih lebar dan tidak mengunci sound. Ini yg menyebabkan pentingnya patching mixbus compression dari awal sehingga apa yg kita mix MELEWATI itu akan MENGUBAH cara kita mixing, dan bukan SETELAH kita mix baru kita pasang compressornya.

Another thing I learn, mixbus compression akan membantu kita mixing dengan lebih cepat dan compress less di individual track. Namun mixbus compression bukanlah ‘magic’. It’s not gonna be an ‘automix’ for you, tapi it will definitely shape and help you get to your destination faster.

Apakah sound2 mixbus compression ini apple dan orange? Saya rasa tidak. Semua adalah ‘orange’. Tapi orange pun banyak jenisnya. Ada jeruk pontianak, jeruk medan, jeruk florida, dan jeruk valencia. Tergantung anda suka yang mana, dan cocok dengan musik yang anda kerjakan.

Oranges

Apakah anda ingin punya sound yang cukup ‘ramah’ dengan industri? Atau yang anda cari malah keunikan dan suara yg tidak lazim didengar. You make the choice friends.

Semoga membantu!

Inspirasi ada dimana2


Nonton di bioskop. Jalan2 di lingkungan yang asing. Bengong2 di kafe sambil mengamati gerak gerik orang sekitar. Membaca buku. Bertukar pikiran dengan teman2 sehobby. Bertukar pikiran dengan teman2 yang tidak seindustri.

Inspirasi itu bisa juga berupa figur ataupun benda mati. Sosok seorang pemimpin maupun seorang kriminal. Memori mendengarkan suara dari sebuah outboard hardware yg menginspirasi kita untuk berkarya kreatif .

What inspires you?

Apa hubungan ini dengan the art of recording? Apa hubungannya dengan kreatifitas dengan audio production? Saya percaya, what inspires you, shape your mind. What shape your mind, shape how you hear. What shape your hearing, shape your sound.

Apabila inspirasi itu tak kunjung datang ketika bekerja, take a break.

Stop listening. Close your ears.

Open your other senses.

Taste and see how it will open up your sound.

Baru tau Babi punya tangan

Baru tau Babi punya tangan

Inline Music Jam Session

Inline Music Jam Session

I am currently mixing for Vina Panduwinata, an Indonesian Diva. It is such a pleasure to deal with good musicians, good arrangement, good song and good performer.

It didn’t feel like work at all when that happens.

George Massenburg, Me and Al Schmitt

George Massenburg, Me and Al Schmitt